“Gus Dur” Bapak Pluralisme
Oleh: Dion72
Rabu, 18.45 berkabung
Bapak Bangsa telah tiada
Bapak kaum marginal pulang ke haribaan
Bapak NU dijemput malaikat
Bapak Seluruh umat tersenyum menghadap
Bapak demokrasi menutup mata
Bapak pluralisme wafat
Bapak dari bapak meninggalkan pesan terakhir
Teruskan perjuangan
Teruskan membela yang lemah
Teruskan memberantas ketidakadilan
Tersukan memperjuangan hah asasi manusia
Teruskan memelihara perbedaan
Buang sekat-sekat yang memisahkan dan membedahkan
Wujudkan cita-caita, membangun negeri ini bersama-sama
Hilangkan perbedaan ras, suku, agama dan budaya
Karena kita menghargai BINEKA TUNGGAL EKA
“ GUS DUR” TELADAN UMAT
Oleh: Dion72
Kesederhanaan Kau tujukkan dalam setiap gaya hidup
Ketegaran kau panjarkan setiap kemelut
Kerasnya prinsip, lembutnya bicara Kau tampakkan
Kau lindungi kaum lemah, Kau besarkan yang kecil
Kebebasan terbuka, nafas mengalir lega
Mendung kelam, ubah terang benderang
Kerdilnya wawasan membuat picik diri
Kerasnya ujian, begitu mudah Kau rasakan
Satunya hati umat mengenang kepergianMu.
Selamat Jalan Gus Dur...
Nama Besar Gus Dur
Oleh: Don72
Siapa yang tidak tahu...
Siapa yang tidak kenal...
Siapa yang tidak mendengar...
Siapa yang tidak melihat....
Nama besarMu
K.H. Abdurrahman Wahid
Kalaupun ada yang tidak tahu
Atau pura-pura tidak tahu
Orang itu mungkin tuli, masi belum ada, buta, atau mati rasa atau hatinya sakit
Namun tidak salah, itu urusan mereka
Tapi jangan tutup mata
Gus Dur Luar Biasa... biasa diluar
Urusi umat
Mendung Kelam Negeri
Oleh: Dion72
Matahari tak lelah sinari negeri ini
bersinar terang, terangi hati
Udara sejuk menyapa kulit ari
Kaki lima bergegas pergi
Pemulung bangga dengan supit dan ranjang di tangan
Tukang bakso bersihkan grobak
Para pegawai dengan baju kebesarannya beranjak ke kantor
Tukang ojeg menyandarkan sepeda sambil minum kopi
Petani menyebarkan ZA dan UREA
menyapa alam dengan sabit dan cangkul
sementara
Warung-warung kopi berasap rokok
Tiba-tiba...
Awan kelam menutupi negeri
Gelap, kelam, sunyi, sepi dan tak berarti
Petir menyambar setiap jiwa, hati berduka, telinga tergetar,
Air mata tak mau sembunyi
Pelita negeri ini memadamkan diri
Tuk kembali menghadap Sang Khaliq
Selamat Jalan Kiai....
Sang Jenius Telah Pergi
Oleh: Dion72
Sejuta mungkin sepuluh
Seratus mungkin satu
Atau mungkin tidak ada...
Ya,.. mungkin tidak ada lagi
Kalaupun ada mungkin tidak sama
Atau ratusan tahun lagi
Sosok suami dari istri yang setia hati
bapak dari anak-anak yang menjadi pelindung
dan oase menyejukkan hati
Para biksu, pendeta, kiai khos,politikus dalam dan luar negeri
Terlindungi karena kasih sayangnya.
Luasnya dunia tak jadi dekat ditanganMu
Perbedaan bahasa Kau kuasai
Tuk satukan negeri ini.
” Gur Dur ” Memang Pahlawan
Oleh: Dion72
Pahlawan bukan sekedar kata
Pahlawan bukan orang biasa
Pahlawan bukan basa-basi
Pahlawan adalah gelar jasa
Bukan diminta atau dibeli
Tapi
Pahlawan itu hasil pengorbanan
Pahlawan itu hasil ketulusan
Pahlawan adalah hasil perjuangan lama
Pahlawan tidak perlu ditetapkan
Tapi pahlawan hádala pengakuan yang tulus
Dari orang-orang yang tahu menghargai pahlawan.
Gus Dur memang pahlawan.
Tahlil Duka
Oleh: Dion72
Kamis duka,
Rabu malam itu benar-benar membuat rakyat negeri ini menangis
Jutaan jiwa terpana, terpukul dan terkejut dengan wafatnya
Kiai kharismatik
Tuntunan umat sedunia dari berbagai suku dan agama
Indonesia berkabung
Berdera setenga tiang dikibarkan di kota sampai pelosok negeri
Gemuru tahlil dan ayat-ayat suci bergema
Ribuan pelayat saksikan tubuh lemah tak berdaya
Jutaan mata menatap TV dengarkan berita
Ciganjur dukamu adalah duka kami
Tebu ireng tangismu adalah tangisan kami
Kami saudaraMu
Umat islam, kristen, hindu, budha dan Konghucu
Yang merasa damai di sisiMu
Berdoa atas nama Tuhan untukMu
Selamat Jalan Gus Dur...
Do’a dan Tahlil mengirinMu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar