RENDAHNYA PEGGUNAAN BAHASA INDONESIA
DALAM BERKOMUNIKASI DAN BERINTERAKSI SISWA
DI SMP NU – 1 GRESIK
Karta Tulis
Oleh:
MAHMUDIONO, S.Pd.
NPM: 2081030012
SMP NU - 1 GRESIK
2008
Rendahnya Penggunaan Bahasa Indonesia Siswa
Dalam Berkomunikasi dan Berinteraksi
di SMP NU-1 Gresik
Mahmudiono, S.Pd.
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang
ABSTRAK
Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam komunikasi antar manusia. Bahasa digunakan untuk berbagai tujuan diantaranya untuk mengekspresikan ide-ide, perasaan, dan pemikiran. Namun kenyataan di lapangan banyak ditemukan penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan semangat Undang-Undang Dasar 1945 dan kaidah bahasa yang telah disepakati menjadi bahasa pengantar pendidikan di Indonesia. Banyak siswa yang masih kesulitan dalam berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam berkomunikasi saja banyak siswa yang tidak teratur dan terasa kaku menggunakan bahasa Indonesia. Begitu pulah dalam proses pembelajaran di sekolah maupun di kelas baik siswa maupun guru kadang lupa kalau berada di kelas atau lingkungan sekolah, yang seharusnya menggunakan pengantar Bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengan siswa.
Kata kunci: Bahasa, Komunikasi, Kaidah Bahasa, Proses Pembelajaran, Berinteraksi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam komunikasi antar manusia. Bahasa digunakan untuk berbagai tujuan diantaranya untuk mengekspresikan ide-ide, perasaan, dan pemikiran.
Bahasa Indonesia telah menjadi bahasa resmi Republik Indonesia pada tahun 1945. Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 36. Bahasa Indonesia juga merupakan bahasa persatuan Indonesia sebagaimana disiratkan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Pemberian nama ‘Bahasa Indonesia’ juga memberikan nilai tertentu yang mempertautkan bahasa dengan nama negara sehingga penduduk Indonesia akan menganggap bahasa Indonesia sebagai simbol nasionalisme Indonesia. Bahasa Indonesia juga telah digunakan sebagai alat komunikasi di segala aspek kehidupan. Kegiatan formal, pengantar pendidikan maupun media merupakan beberapa contoh wilayah penggunaan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga diharapkan sebagai bahasa yang memiliki nilai prestisius yang paling tinggi yaitu dengan membakukan ejaannya, penyedian kamus baku bahasa Indonesia, membakuan tata bahasanya, serta penambahan kosakata dengan menyerap dari bahasa lain baik itu bahasa daerah maupun bahasa asing untuk tujuan keilmiahan secara luas.
Namun kenyataan di lapangan banyak ditemukan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan semangat Undang-Undang Dasar 1945 dan kaidah bahasa yang telah disepakati menjadi bahasa pengantar pendidikan di Indonesia. Banyak siswa yang masih kesulitan dalam berbahasa, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam berkomunikasi saja banyak siswa yang tidak teratur dan terasa kaku menggunakan bahasa Indonesia. Begitu pulah dalam proses pembelajaran di sekolah maupun di kelas baik siswa maupun guru kadang lupa kalau berada di kelas atau lingkungan sekolah yang seharusnya menggunakan pengantar bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengan siswa.
Lalu apakah tidak mungkin kalau kondisi ini dibiarkan dan tidak ada langkah-langkah atau upacaya terbaik, bahasa Indonesia akan jadi simbol saja. Dari latar belakang inilah penulis mencobah mengangkat masalah dan mencari solusi terbaik.
1.1 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah keberadaan Bahasa Indonesia di kalangan siswa SMP NU-1 Gresik?
2. Sejau mana Bahasa Indonesia digunakan siswa SMP NU-1 dalam berinteraksi dengan teman-teman dan para guru ?
3. Mengapa siswa sulit menggunakan Bahasa Indonesia dalam proses belajar mengara di kelas ?
4. Apa saja faktor yang menyebabkan rendahnya penggunaan bahasa Indonesia di SMP NU-1 Gresik?
1.2 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian diatas, maka peneliti mengadakan penelitian ilmiah dengan tujuan:
1. Mengetahui bagaimana keberadaan Bahasa Indonesia di kalangan siswa SMP NU-1 Gresik.
2. Mengetahui apakah para siswa SMP NU-1 menggunakan Bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengan teman-teman dan para guru ?
3. Mengetahui mengapa siswa sulit menggunakan Bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar di kelas .
4. Mengetahui apa saja faktor yang menyebabkan bahasa Indonesia terasa kaku digunakan dalam berkomunikasi.
1.3 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
Untuk membuat penelitian ini terstruktur dengan baik serta fokus pada masalah penelitian, maka peneliti membuat ruang lingkup penelitian dan pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini hanya untuk Mengetahui bagaimana keberadaan Bahasa Indonesia di kalangan siswa SMP NU-1 Gresik.
2. Penelitian ini hanya pada subjek penelitian para siswa SMP NU-1 menggunakan Bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengan teman-teman dan para guru .
3. Sebab-sebab siswa sulit menggunakan Bahasa Indonesia dalam proses belajar mengajar di kelas.
1.4 Anggapan Dasar dan Hipotesis Awal Penelitian
1.4.1 Anggapan Dasar
Sebelum mengadakan penelitian ini, peneliti telah memiliki anggapan dasar penelitian sebagai pijakan peneliti untuk mengadakan penelitian secara benar dan terarah. Anggapan dasar penelitian itu adalah:
1. Bahasa Indonesis adalah bahasa pengantar dalam kegiatan pendidikan di sekolah.
2. Bahasa Indonesia digunakan dalam berkomunikasi oleh siswa dan guru dalam berinteraksi dan komunikasi di sekolah dan di kelas.
3. Siswa sudah biasa menggunakan Bahasa Indonesia dalam berinteraksi dan komunikasi di sekolah dan di kelas.
1.4.2 Hipotesis Awal Penelitian
Karena dalam masyarakat yang memiliki kedwibahasaan, penutur bisa memilih bahasa apa yang dipakai dengan mempertimbangkan (1) tempat, (2) tujuan, (3) lawan bicara (interlocutor), dan tingkat kesulitan bahasa. Maka peneliti dapat merumuskan hipotesis awal penelitian sebagai berikut:
1. Terjadi ke kesulitan dalam penggunaan Bahasa Indonesia dalam komunikasi interaksi dalam proses pembelajaran di sekolah karena terbiasa menggunakan bahasa kedua.
2. Ada kecenderungan guru mengalah menggunakan bahasa daerah atau bahasa kedua demi berhasilnya proses pembelajaran.
3. Faktor yang menyebabkan siswa kesulitan dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia adalah: (1) siswa terbiasa menggunakan bahasa ibu (B1), (2) lingkungan yang sama-sama menggunakan bahasa ibu (B1), (3) lingkungan sekolah yang tidak menerapkan bahasa Indonesia dalam berinterkasi maupun berkomunikasi pada waktu pembelajaran.
4. Dalam jangka panjang di daerah tertentu Bahasa Indonesia dianggap asing dan ada perasaan kaku dan malu menggunakannya
1.5 Populasi dan Sampel penelitian
1.5.1 Populasi Penelitian
SMP NU-1 Gresik yang berdiri tahun 1965 merupakan sekolah yang boleh dikatakan sudah berumur dan berpengalaman. Sekolah ini selalu menjadi bagian dari perkembangan pendidikan di Kabupaten Gresik di lingkungan Depatemen Pendidikan. Apalagi sekolah ini berbasis Nahdlatul Ulama (NU) yang dianut mayortas masyarakat Gresik. Jumlah siswanya sebenarnya terus bertambah dari tahun ke tahun, karena lokal dan lingkungan pengembangan yang tidak mungkin dilakukan maka siswanya pun dibatasi. Pada tahun pelajaran 2008-2009 jumlahnya 258 siswa.
Adapun populasi penelitian ini adalah kelas VIII A, VIII B dan VIII C dengan jumlah siswa masing-masing 38, 42 dan 40 jumlah semua 120 siswa.
1.5.2 Sampel Penelitian
Dari populasi penelitian yang sudah ditentukan , peneliti mengambil sampel penelitian kelas VIII B berjumlah 42 siswa. Jadi peneliti yakin sampel penelitian dapat mewakili kesuluruhan populasi penelitian karena latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya yang hampir sama dengan siswa dari kela lain.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Bahasa
2.1.1 Pengertian Bahasa
Dalam kehidupan bermasyarakat seseorang tidak bisa hidup menyendiri tanpa kehadiran orang lain atau tanpa bergaul dengan orang lain. Pernyataan ini membuktikan bahwa pada hakikatnya manusia adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia terdorong untuk berkomunikasi dengan orang lain, baik untuk menyatakan keberadaanya sendiri, mengekspresikan kepentingannya, menyatakan pendapatnya, maupun untuk mempengaruhi orang lain, demi kepentingannya sendiri, kepentingan kelompoknya maupun kepentingan bersama. Berkaitan dengan hal itu maka bahasa adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia (Mustakim, 1994: 1).
Bahasa memiliki banyak sekali definisi. Untuk mengetahui definisi bahasa kita dapat mengetahui dari dua segi yaitu segi teknis dan segi praktis. Secara teknis bahasa adalah seperangkat ujaran yang bermakna, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Sehubungan dengan pengertian itu maka ada dua catatan yang harus diperhatikan.
Pertama, bahasa dikatakan sebagai seperangkat ujaran yang bermakna karena ada ujaran-ujaran yang lain yang tidak bermakna meskipun juga dihasilkan oleh alat ucap manusia, misalnya ujaran-ujaran yang tidak didasarkan pada sistem yang berlaku dalam bahasa tersebut. Dalam hal ini, ujaran-ujaran tersebut tidak bisa disebut sebagai bahasa.
Kedua, bahasa disebut sebagai seperangkat ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia karena ada ujaran-ujaran lain yang tidak dihasilkan oleh alat ucap manusia. Dalam hal ini, ujaran yang tidak dihasikan oleh alat manusia tentu tidak bisa disebut bahasa.
Secara praktis bahasa merupakan alat komunikasi antar anggota masyarakat yang berupa sistem lambang bunyi yang bermakna, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Pengertian ini menunjukkan bahwa ada alat komunikasi lain yang tidak disebut bahasa karena tidak berupa sistem lambang bunyi. Anggukan kepala, gelengan kepala, dan lambaian tangan, misalnya juga merupakan alat komunikasi, tetapi tidak disebut bahasa karena tidak menggunakan sistem lambang bunyi sebagaimana dimaksud diatas.
Dari pengertian secara praktis tersebut kita dapat mengetahui bahwa bahasa harus memiliki dua aspek kebahasaan yaitu aspek sistem (lambang) dan aspek makna. Bahasa disebut sebagai sistem bunyi atau sistem lambang bunyi karena bunyi-bunyi bahasa yang kita dengar atau kita ucapkan itu sebenarnya bersistem atau memiliki keteraturan. Jadi, agar sistem bunyi itu memiliki makna, kita harus melihat pedoman bahasa yang telah disepakati.
Sedangkan dari aspek makna, hal itu berarti bahwa arti atau pengertian yang ditimbulkan oleh suatu bentuk bahasa. Dalam kaitan ini, hubungan antara aspek sistem (lambang) bunyi dan aspek makna di dalam suatu bahasa sebenarnya bersifat arbitrer atau manasuka. Artinya antara bahasa sebagai sistem bunyi (lambang) dan wujud benda atau konsep yang dilambangkan dengan bahasa itu sebenarnya tidak ada kaitan langsung. Dengan kata lain, hubungan antara bahasa dan wujud benda yang diwakilinya hanya didasarkan pada kesepakan antar penuutur bahasa di dalam masyarakat bahasa yang bersangkutan.
2.1.2 Fungsi dan Peranan Bahasa
Didalam mendefinisikan bahasa, beberapa ahli bahasa menggunakan fungsi bahasa sebagai fitur pembeda. Di dalam definisi itu disebutkan bahwa bahasa adalah sistem simbol lisan yang arbitraris, dengan mana anggota masyarakat saling berkomunikasi. Tugas bahasa memang untuk alat komunikasi. Jadi fungsi bahasa adalah untuk saling berinteraksi, untuk saling bertanya-jawab, untuk saling berpadah (memberi tahu), menyahut, untuk menyuruh, melarang, menolak, meminta dan berseru (Poejosoedarmo, 2003: 169-170).
Selain sebagai alat berkomunikasi, pada hakikanya bahasa juga merupakan alat ekspresi diri, alat integrasi dan adaptasi sosial, serta alat kontrol sosial (Mustakim, 1994: 4). Sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dalam bermasyarakat sebagai bentuk perwujudan manusia yang merupakan mahluk sosial.
2.3 Bahasa Indonesia
2.3.1 Sejarah Bahasa Indonesia
Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang beruntung karena memiliki bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang memiliki peranan sangat besar bagi bangsa Indonesia, baik pada masa sebelum kemerdekaan maupun pada masa kini (Yonohudiono dan Suyono, 1994: 1).
Bahasa Indonesia yang sekarang ini menjadi bahasa nasional berasal dari dialek Riau. Bahasa Melayu dialek Riau mempunyai beberapa dialek. Salah satunya adalah bahasa Melayu pasar. Bahasa Melayu pasar itulah yang kemudian menjadi lingua franca di seluruh nusantara. Karena faktor bahasa Melayu pasar yang sudah terkenal sebagai bahasa perhubungan itulah, maka bahasa Melayu dialek Riau itu diterima sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah (Keraf, 1984: 21). Proses diterimanya bahasa melayu Riau menjadi bahasa nasional juga tidak bisa terlepas dari jasa beberapa surat kabar waktu itu diantaranya, Bianglala, Bintang Timur, Kaum Muda, Neratja dan lain sebagainya sehingga bahasa Melayu dialek Riau dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Meskipun proses penentuan bahasa daerah sebagai bahasa nasional sangat sulit, akhirnya pada kongres pemuda di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 1928, berhasil diikrarkan sumpah yang kemudian kita kenal dengan Sumpah Pemuda yaitu:
1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Sejak tanggal 28 Oktober 1928 secara resmi bangsa Indonesia telah memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia yang sebenarnya merupakan bahasa Melayu. Peristiwa diangkatnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional merupakan peristiwa politik, jadi tidak hanya sekedar peristiwa kebahasaan saja (Yonohudiono dan Suyono, 1994: 2).
Ada lima faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa nasional yaitu:
1. Sejarah telah membantu penyebaran bahasa Melayu sehingga bahasa Melayu menjadi lingua franca di seluruh nusantara dan menjadi alat komunikasi perdagangan. Bahasa melayu juga telah digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah untuk mendidik calon pegawai negeri bangsa bumi putra.
2. Jika bahasa Jawa yang digunakan, suku-suku bangsa atau golongan lain di negara Indonesia akan merasa terjajah oleh suku Jawa yang merupakan suku terbesar di Indonesia.
3. Bahasa Melayu memiliki sistem yang sederhana dan tidak memiliki tingkatan bahasa (unda-usuk) sehingga mudah dipelajari; tidak seperti halnya bahasa Jawa.
4. Faktor psikologis yaitu suku Jawa dan suku Sunda yang sebenarnya merupakan dus suku terbesar telah menerima bahasa Melayu sebagai bahasa pemersatu bangsa secara nasional.
5. Kesanggupan bahasa Melayu sendiri untuk diangkat sebagai bahasa Nasional yang juga sebagai alat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan dalam arti luas.
2.1.3 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat besar terhadap bangsa Indonesia baik sebelum kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan. Hal itu dapat dilihat dari ikrar sumpah pemuda butir yang ketiga yang berbunyi: “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia” dan Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36, yang berbunyi: “Bahasa Negara adalah bahasa Indonesia.”
Penting tidaknya suatu bahasa dapat dilihat dari beberapa patokan bahasa yaitu: (1) jumlah penuturnya, (2) luas penyebarannya, dan (3) peranannya sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya (Moeliono, 1988: 1)
Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sudah dibakukan sejak seminar bahasa dan sastra Indonesia dan daerah di Jakarta tahun 1975. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional secara resmi dimulai tahun 1928, yaitu sejak Sumpah Pemuda. Sejak itulah bahasa Indonesia diakui sebagai bahasa oleh seluruh bangsa Indonesia.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi di antarangnya:
1. Sebagai lambang kebulatan semangat kebangsaan Indonesia
2. Sebagai lambang jadi diri atau identitas bangsa Indonesia
3. Sebagai alat pemersatu dari masyarakat dengan perbedaan bangsa yang memiliki berbagai perbedaan, baik dari latar belakang sosial, budaya maupun bahasanya
4. Sebagai alat penghubung antardaerah dan antar budaya. (Ardiana,1996:ii)
Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
1. Sebagai bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan formal
2. Sebagai bahasa resmi negara yang digunakan dalam perhubungan pada tingkat nasional, baik dalam kepentingan dan pembangunan maupun kepentingan pemerintahan
3. Sebagai bahasa resmi, baik dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan maupun dalam bidang teknologi. (Mustakim, 1994:14-15)
2.1.4 Perkembangan Bahasa Indonesia
Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia telah mengalami proses pengembangan yang memerlukan waktu berabad-abad lamanya. Namun persepsi orang-orang selama ini, bahwa bahasa Indonesia berasal dari melayu Riau. Namun, pada dasarnya bahasa Melayu Riau hanyalah salah satu dari sekian banyak dialek-dialek Melayu. Di Nusantara yang dikenal sebagai bahasa perhubungan (Lingua franca) yaitu Melayu Pasar yang merupakan faktor diterima sebagai bahasa pengantar (Keraf, 1948:21)
Sebelum masa kolonial, bahasa Melayu telah digunakan oleh kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Bukti-bukti yang mendukung pernyataan tersebut yaitu ditemukannya prasasti-prasasti di daerah Sumatra, seperti: prasasti Kedukan Bukit (Palembang: 683), Talang Tuo (Palembang: 684), Kota Kapur (Bangka Barat: 686), Karang Berahi (Jambi dan Sungai Musi: 688) yang semuanya bertuliskan dengan bahasa Melayu Kuno. Prasasti lain juga ditemukan di Jawa Tengah, prasasti Gandasuli (832) dan di Bogor, prasasti Bogor (942). Prasasti-prasasti yang ditemukan di Jawa dan di Sumatra menunjukkan pada masa kerajaan Sriwijaya telah menggunakan bahasa Melayu Kuno. Berikut bunyi yang diambil dari batu bertulis Kedukan Bukit :
“Swastie syrie sysaka warsaatreta 605 ekadasyn syuklapaksa wulan waisyaakha dapunta hyang naayik di saamwan mangalap siddhayaatra di saptamie syukalapaksa wulan jyestha dapunta hyang marlapas dari minanga laamwan...(Selamat! Pada tahun saka 605 hari kesebelas pada masa terang bulan waisyaakha, tuan kita yang mulia naik di perahu menjemput siddhayaatra. Pada hari ketujuh, pada masa terang bulan Jayestha, tuan kita yang mulia berlepas dari minanga laamwan).
Kedudukan bahasa Melayu dalam masyarakat berlanjut hingga masa kolonial, bahasa Melayu merupakan bahasa resmi dalam pergaulan, dan bahasa perantara dalam perdagangan. Hal itu berarti bahasa Malayu telah dikenal luas dalam masyarakat Indonesia.
Di Maluku, baik bangsa Portugis maupun bangsa Belanda mencoba memposisikan bahasa mereka sebagai bahasa perantara, namun sebagian besar sekolah-sekolah di Maluku memakai bahasa Melayu sebagai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Hingga keluarlah keputusan dari pemerintah kolonial, K.B. 1871 No. 104, yang mengatakan bahwa pengajaran di sekolah-sekolah Bumi Putra diberi dalam bahasa daerah, kalau tidak dipakai bahasa Melayu (Keraf, 1948:23).
Namun, karena timbulnya pergerakan kebangsaan, menimbulkan suatu pemikiran untuk mengikat dari sekian macam suku bangsa dengan suatu bahasa nasional yaitu bahasa Melayu yang telah menjadi Lingua franca yang kemudian dijadikan sebgai bahasa nasional. Walaupun usaha tersebut tidaklah mudah, karena tiap daerah lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing dalam berkomunikasi. Maka pemerintah kolonial mendirikan suatu komisi “Comissie voor de Volkslecture” yang kemudian pada tahun 1917 diganti menjadi “Balai Pustaka” yang diketahui oleh Dr. G.A.J. Hazeu. Komisi ini membantu menyebarkan buku bahasa dengan topik bahasa Melayu. Sehingga penyebaran bahasa Melayu pun semakin meluas di wilayah Indonesia.
Pada tahun 1926, Jong Java merasa perlu mengakui suatu bahasa daerah yang dapat menghubung kan para pemuda-pemuda di Indonesia. Dan bahasa Melayu-lah yang dipilih sebagai bahasa perantara. Namun, para pemuda di Sumatra telah lebih dahulu mengakui bahasa Melayu Riau sebagai bahasa perantara pada kongres ke-II Jong Sumatra. Hingga akhirnya pada 28 Oktober 1928 dicetuskannya ikrar Sumpah Pemuda yang merupakan pedoman diresmikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa perantara bangsa Indonesia.
Pada zaman sekarang ini, secara nasional perkembangan bahasa memang telah pada taraf yang mengembirakan. Sikap masyarakat telah demikian baik terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa negara juga bahasa persatuan Indonesia. Politik bahasa nasional juga telah mengamanahkan kepada bangsa Indonesia untuk mendudukkan bahasa sebagai bahasa negara dan bahasa nasional. Maka sudah selayaknya bangsa Indonesia bangga berbahasa Indonesia, mencintai bahasa Indonesia, dan setia terhadap bahasa Indonesia (Ardiana, 1995: 10)
Namun, yang terjadi di sekolah SMP NU-1 Gresik berbeda. Siswa enggan bahkan ada rasa kaku dan malu dalam mengucapkan kata-kata menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan teman bahkan dengan guru di kelas. Mengapa demikian?
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Kemampuan Berbahasa Siswa
3.1.1 Faktor dominan bahasa kedua
Kemapuan anak manusia untuk dapat menguasai bahasa pertamanya dalam waktu yang relatif singkat, hanya beberapa tahun pertama. Sungguh merupakan keajaiban dan menjadi perhatian utama para ahli pembelajaran bahasa maupun ahli psikolinguistik. Ketika bayi lahir dengan menangis, kemudian ia mulai mendekut (Cooing), kemudian mengoceh (babbling). Pada saat itu ia menghasilkan bunyi-bunyi yang tidak jelas maknanya yang terdiri atas gabungan bunyi-bunyi vokal dan konsonan.
Perkembangan bahasa anak pun berlanjut ketika usia satu tahunan anak sudah dapat menirukan kata-kata yang diucapkan oleh orang tua dan keluarganya, walau kata-kata yang muncul tidak jelas dan aterus berkembang sampai anak menjadi anak remaja dan dewasa. Kalau orang tua dan keluarga membiasakan menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan keseharian di rumah maka anak akan meniru dan akhirnya anak menjadi penutur bahasa Indonesia. Akan tetapi kalau anak secak kecil diajak berkomunikasi dalam setiap kegiatanya dengan menggunakan bahasa ibu (B1) yang berbahasa daerah bahasa Jawa yang tingkat rendah (ngoko) maka anak akan terbiasa menggunakan bahasa Jawa "ngoko" dalam setiap situasai dan tempat anak berada dan mungkin siswa-siswa SMP NU-1 Gresik mereka diajarkan oleh orang tua menggunakan bahasa kedua (jawa) dalam setiap kegiatan.
Prof. DR. Henry Guntur Tarigan (1993:1) mengatakan: bahwa keterampilan berbahasa itu ada empat komponen yang saling berkaitan, yaitu:(1) ketrampilan menyimak (listening skills), (2) keterampilan berbicara (spesking skill), (3) keterampilan membaca (reading skills), (4) keterampilan menulis (writing skills). Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainya dengan cara meraneka ragam. Dalam hubungan urutan yang teratur, mula-mula pada masa kecil kita menyimak, kemudian berbicara, seudah itu belajar membaca dan menulis.
Uraaian tersebut, secara rasional dan proporsional anak jelas menggunakan bahasa kedua dalam setiap interaksi dan komunikasi baik di rumah maupun di sekolah. Faktor kebiasaan anak inilah akhirnya siswa-siswa enggan dan terdengar kaku dalam menggunakannya.
3.2 Tingkatan berbahasa anak dalam penerapan
Dari hasil pengamatan pada sampel atau objek penelitian siswa kelas VIII B secara khusus dan semua siswa secara umum tentang rendahnya pengunaan bahasa Indonesia siswa , penulis dapat mengelompokkan sebagai berikut:
3.2.1 Menurut tujuan atau lawan bicara
3.2.1.1 Sesama teman
Bahas yang dipakai siswa sudah pasti menggunakan bahasa ibu atau bahasa kedua yang berupa bahasa jawa kasar (ngoko) logat Gresik-an. Seperti dalam percakapan yang penulis dengar ketika mereka duduk-duduk di kantin sambil makan jajan dan sebungkus plastic es. Abdul Mujib mengatakan kepada Moh. Taufik, "Fik koen wis ngerjakno PR- re Pak. Mahmud?" lalu Taufik menjawab, "PR opo? Eson gak ero kok." Ada lagi percakapan mereka seperti, " Bud njalok sambele titik." ( Budi minta sambal kepada salah satu temannya bernama Budi), "He, Pak Mahmud wes teko,he patenono tipine."(Suasana di kelas guru akan masuk kelas) dan banyak lainnya. Jadi anak-anak tidak menggunakan bahasa Indonesia sama sekali dalam berkomunikasi dengan temannya.
3.2.1.2 Petugas SPP dan Perpustakaan
Begitu juga dengan petugas SPP dan Perpustakaan terjadi penggunaan bahasa Indonesia yang rendah karena pengaruh bahasa kedua, seperti berikut: " Bu kurang piro?" (seorang siswa menanyakan kekurangan SPP kepada petugas), " Bu Ina terkhir kapan? Gak duwe duwek Buk." (seorang siswa kelas IX menanyakan kapan terakhirnya pembayaran Ziarah Wali 8 kepada bu Ina petugas SPP) Begitu juga sama pada petugas perpustakaan. " Mas nyele kamus Bahasa Indonesia, dikongkon Pak. Mahmud."(seorang siswa pinjam kamus Bahasa Indonesia kepada petugas perpustakaan).
3.2.1.3 Kepada guru di kelas
Penggunaan bahas Indonesia oleh siswa kepada guru pada saat pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut: Pertama, siswa menggunakan bahasa kedua, seperti: "Pak wes mari, dibiji Pak!" (seorang anak yang mengatakan kepada seorang guru tentang hasil pekerjaanya yang sudah selesai dan minta dinilai), "Pak makna konotasi iku opo Pak!" (seorang anak menanyakan tentang pengertian makna konotasi), “ Pak, oleh ndelok buku?” ( seorang anak menanyakan kepada guru pada waktu ulangan apakah boleh melihat buku) dan banyak lainnya. Kedua, siswa menggunakan bahasa campuran yaitu bahasa Indonesia dan bahasa kedua (jawa ngoko) seperti: "Mari ngerjakan pulang, Pak?" (seorang anak meminta pulang kepada guru di kelas setelah mengerjakan tugas) , "Pak Izin nang belakang!.", (seorang anak minta izin ke belakang dengan tujuan buang air kecil dll) "Pak nomer telu apa?" (seorang anak menanyakan kepada guru nomor tiga yang belum mengerti), “ Pak , Taufik gak masuk.” (seorang anak mengatakan kepada gurunya memberitahukan bahwa temanya yang bernama Taufik tidak masuk) dan banyak lainnya.
3.2.2 Kelancaran ujaran
Keterampilan berbicara khususnya menggunakan bahasa Indonesis yang dialami siswa dalam kegiatan pembelajaran terlihat kaku. Kekakuan ini disebabkab siswa masi terpengaruh oleh kosa kata bahasa kedua dan masih lambat dalam mencari kosa kata apa untuk mengatakan sesuatu dengan maksud tertentu dalam bahasa Indonesia. Banyak siswa yang sebenarnya ingin berbicara untuk menyampaikan gagasannya tetapi ada perasaan takut salah dan ditertawakan teman-temannya.
Kelancaran dalam menyampaikan gagasan ini tentu dipengaruhi oleh intelgensi atau tingkat kecerdasan anak yang berbeda-beda dan karakter anak. Ada anak yang genius tetapi dalam berkata-kata tidak lancer (gagap), ada yang intelgensinya renda juga berbicaranya terpata-pata. Sepertinya mendekati kebenaran bahwa kepandaian seseorang dalam berbahasa menunjukkan kematangan pola pikirnya.
3.3 Faktor penyebab
Rendahnya penggunan bahasa Indonesia oleh kebanyakan siswa SMP NU-1 karena beberapa sebab, yaitu:
3.3.1 Penggunaan bahasa Ibu sebagai bahasa pertama(B1) lebih kuat, sehingga penggunaan bahasa Indonesia oleh siswa terasa kaku dan asing.
3.3.2 Lingkungan sekolah yang tidak menerapkan bahasa Indonesia dalam berinterkasi maupun berkomunikasi pada waktu pembelajaran.guru masih terlihat menggunakan bahasa campuran demi lancaranya proses pembelajaran.
3.3.3 Lingkungan yang sama-sama menggunakan bahasa ibu (B1). Lingkungan keluarga dan lingkungan teman sebaya di sekolah menggunakan bahasa ibu dalam setiap interaksi dan komunikasi sehingga bahasa Indonesia terasa asing apabila ada salah satu anak yang menggunakan.
3.3.4 Adanya degradasi dalam tata krama antara siswa dan guru. Diakui atau tidak di sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta di lingkungan Departemen Pendidikan maupun Depatemen Agama, siswa-siswanya dalam berinteraksi dengan guru layaknya teman, sehingga bahasa yang digunakan pun bahasa kedua (jawa ngoko).
3.4 Upaya Pemecahan
Melihat kenyataan di lapangan, yaitu siswa-siswa SMP NU-1 Gresik sebagai populasi secara umum dan khususnya siswa kelas VIII B sebagai sampel yang terlihat enggan bahkan ada kesan malu dalam berkomunikasi baik dengan teman maupun saat pembelajaran, maka harus ada usaha mengatasinya. Adapun upaya mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sekolah dan semua warga sekolah harus bersama-sama membuat program adanya penggunaan bahasa pengantar dalam komunikasi antar guru dan siswa.
2. Dalam proses pembelajaran di kelas seharusnya guru menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan, sehingga bahasa Indonesia tidak asing di terlinga para siswa.
3. Sekolah harus mewajibkan siswa menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dan menegur bahkan memberi sanksi mendidik bagi yang tidak menggunakan bahasa Indonesia.
4. Petugas sekolah baik TU, Pustakawan maupun tenaga lain harus berikap pasif atau pura-pura tidak mendengar apabila ada siswa yang berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ngoko, sehingga siswa lama-lama akhirnya mengerti dan menggunakan bahasa Indonesia agar dilayani kepentinganya di sekolah.
5. Untuk mencegah terjadinya pergeseran bahasa Indonesia jangan sampai terlihat asing yang akhirnya tidak mau mengunakan dalam berkomunikasi perlu ada gerakan bersama-sama antar war ga sekolah dan semua warga bangsa Indoenesia secara nasional.
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Berdasarkan Pembahasan di atas, maka penulis menyimpulkan hasil penelitian ini sebagai berikut:
1. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi, diantaranya sebagai bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan formal, swasta maupun negeri.
2. Bahasa Indonesia menjadi bahasa asing bagi sebagian siswa yang interaksi sosial dan komunikasi sehari-hari lebih kuat menggunakan bahasa kedua atau bahasa ibu.
3. Guru selaku unjung tombak dalam mengantarkan pembelajaran, masih terlihat tidak konsisten dan lebih mengutamakan proses pembelajaran yang cepat di pahami oleh siswa.
4.2 Saran
Setelah melakukan penelitian, pengamatan dan evaluasi, penulis mengemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Sekolah dan semua warga harus bersama-sama membuat program adanya penggunaan bahasa pengantar dalam komunikasi antar guru dan siswa.
2. Dalam proses pembelajaran di kelas seharusnya guru menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan, sehingga bahasa Indonesia tidak asing di terlinga para siswa.
3. Sekolah harus mewajibkan siswa menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dan menegur bahkan memberi sanksi mendidik bagi yang tidak menggunakan bahasa Indonesia.
4. Petugas sekolah baik TU, Pustakawan maupun tenaga lain harus berikap pasif atau pura-pura tidak mendengar apabila ada siswa yang berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ngoko, sehingga siswa lama-lama akhirnya mengerti dan menggunakan bahasa Indonesia agar dilayani kepentinganya di sekolah.
5. Untuk mencegah terjadinya pergeseran bahasa Indonesia jangan sampai terlihat asing yang akhirnya tidak mau mengunakan dalam berkomunikasi perlu ada gerakan bersama-sama antar war ga sekolah dan semua warga bangsa Indoenesia secara nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Keraf Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Ende-Flores: Nusa Idah.
Badudu, J.S. 1983. Membina Bahasa Indonesia Baku. Bandung: Pustaka Prima.
Tarigan, Henry Guntur. 1993. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkas.
Ardiana, Leo Indra. 1995. Bahasa yang baik dan benar, polusi bahasa, dan sikap tunaharga diri. Dalam Dimensi, Jurnal Pendidikan dan Sastra IKIP NEGERI SURABAYA pada Agustus 1995 No. 20/Th. V/ 1995 Hal.
Keraf Gorys. 1984. Komposisi. Ende-Flores: Nusa Indah.
HM, Afif dkk. 2004. Panduan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakrta: Depag.
Depatemen Pendidikan Nasional. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi.Jakarta:Depdiknas.
K. Mahmud, Kusman. 1987. Mari Memperhatikan dan Memggunakan Bahasa Indonesia. Bandung: CV.Yrama.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirobbilalamin, segalah puja dan puji hanya milik Allah . Rahmat dan taufignya hanya dari Allah SWT, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan karya tulis ini.
Kaarya tulis ini berisi analisis tentang mengapa siswa SMP NU-1 Gresik enggan dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dan berinteraksi sehari-hari di lingkungan sekolah.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya karya tulis ini tidak lepas dari bantuan pemikiran dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada :
1. Yth Bapak Drs. Hasan Busri, M.Pd. selaku dosen pembimbing mata kulia Penulisan Ilmiah
2. Rekan-rekan yang telah membatu terselesaikannya karya tulis ini.
3. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan .
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Gresik, 02 Januari 2009
Penulis
Mahmudiono, S.Pd.
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ................................................................................ i
ABSTRAK .................................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ............................................................................... iii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Rumusan Masalah ................................................................................. 2
1.2 Tujuan Penelitihan ................................................................................ 2
1.3 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian ................................................. 3
1.4 Anggapan Dasar dan Hipotesis Awal Penelitian ................................... 3
1.4.1 Anggaran Dasar ............................................................................ 3
1.4.2 Hipotesis Awal Penelitian ............................................................ 4
1.5 Populasi dan Sampel penelitian ............................................................ 4
1.5.1 PopulasiPenelitian......................................................................... 4
1.5.2 Sampel Penelitian .......................................................................... 5
BAB II LANDASAN TEORI .................................................................... 6
2.1 Bahasa .................................................................................................... 6
2.1.1 Pengertian Bahasa ......................................................................... .6
2.1.2 Fungsi dan Peranan Bahasa .......................................................... 8
2.3 Bahasa Indonesia .................................................................................... 8
2.3.1 Sejarah Bahasa Indonesia .......................................................... 8
2.2.3 Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia ................................ 10
2.4 Perkembangan Bahasa Indonesia ....................................................... . 11
BAB III PEMBAHASAN ........................................................................ 14
3.1 Kemampuan Berbahasa Siswa ............................................................. 14
3.1.1 Faktor dominan bahasa kedua ..................................................... 14
3.2 Tingkat berbahasa anak dalam penerapan ........................................... 15
3.2.1 Menurut tujuan atau lawan bicara ............................................ .15
3.2.1.2 Petugas SPP dan Perpustakaan ................................................. 16
3.2.1.3 Kepada guru di kelas .................................................................. 16
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN ..................................................... .20
4.1 Simpulan ........................................................................................... 20
4.2 Saran .................................................................................................. 20
Daftar Pustaka .......................................................................................... 21
Tidak ada komentar:
Posting Komentar