JUDUL : Hati Yang Gersang
Karya : Mahmudiono, S.Pd.
Pelaku : 1. Mama (wanita karier) Oleh: .................................................
2. Papa (Penguasaha Sukses) Oleh: .................................................
3. Andi (anak) Oleh: .................................................
4. Pembantu Oleh: .................................................
5. Mak Ijah (buru cuci baju) Oleh: .................................................
6. Bapak (Tukang becak) Oleh: .................................................
7. Ismail ( Anak miskin) Oleh: .................................................
7. Alman (Teman Andi) Oleh: .................................................
8. Nizam (Teman Andi) Oleh: .................................................
9. Amin (Teman Andi) Oleh: .................................................
Ilustrasi : (dibaca sebelum pelaku masuk)
Kebahagiaan ternyata tidak diukur karena harta yang berlimpah. Rumah mewah bertingkat tiga, mobil dari merek-merek ternama, dan uang bagai dauan-daun berserakan di rumah. Apalah artinya kalau dalam keluarga tidak ada kasih sayang, dan betegur sapa. Sibuk dan sibuk demi karier dan mengorbankan anaknya. Mereka beranggapan dengan uang, semua dapat dibeli. Keluarga bak neraka.
Sementara di luar sana begitu banyak keluarga yang kelaparan, anak-anak menangis karena orang tuanya tidak punya uang, dan anak putus sekolah karena bapaknya tukang becak sedangkan ibunya hanya buru cuci, namun kasih sayang kedua orang tua menyejukkan hati dan terpancar kasih sayang yang tulus, sungguh suatu keadaan yang berbeda.
Bagaimanakah cerita selengkapnya …..mari kita ikuti!
(Iringan musik .......................)
Adegan 1:
Pak Dadang : ( Masuk rumah membawa ’Sulak’ dan ”serbet” sambil nyapu membersihkan lantai lalu kursih) ” Nasib, nasib. Hidup ini kok begini. 20 tahun jadi pembantu di rumah Tuan Herry kok ndak berubah, tetap membawa sapu dan bersih-bersih. Tapi saya heran dengan keluarga ini. Uang banyak, harta berlimpah, kok bagai di neraka. Tuan pulang..pergi, pulang ..pergi. kayak mobil di terminal. Begitu juga Nyonya...
Berangkat pagi....pulang tengah malam. Hampir tidak ada pertemuan. Kasihan…Mas Andi! Hampir tidak ada yang menayapa
Tiap hari tidur sendiri, makan, berangkat dan pulang hanya saya yang menyapa. Kasihan…kasihan.
Andi : “ Mang! Papa dan Mama Belem pulang? (kesal, dan capek dari sekolah)
Mang Dadang : ” Belum Mas!” (nada kasihan melihat Andi)
Andi : (duduk di kursi, sambil merebahkan kepala ke sandaran kursi)
Mang Dadang : ” Mas ...apa ndak mandi dulu,.. biar segar, Air hangat sudah ada dan makanan siap di meja makan”
Andi : ” Iyah Mang. Ma kasih” ( berjalan dengan jalan guntai, lemas)
Mang Dadang : ” Kasihan Mas..Andi. Seng kebacot...Tuan dan Nyonya. Bapak-Bapak, Ibu-ibu, jangan seperti Tuan dan Nyoya. (lalu berjalan masuk)
(Iringan musik keluar ....................)
Adegan II:
(Iringan musik masuk. ..................)
Ilustrasi :
Andi duduk-duduk di pinggir jalan sepulang dari sekolah. Kelihatan bingung memikirkan nasib dirinya. Papa Mamanya sibuk dengan kerja masing-masing. Kemanakah Andi akan mencurahkan semua isi hatinya? Mari kita saksikan.....
Andi : (Duduk dipinggir jalan sehabis sekolah)
(Ketiga Teman Andi Nizam, Amin, Alman habis ngamen)
Alman : ”Hai Frend, kelihatnya punya masalah?” Curhat dong sama kami! Mungkin kami bisa bantu, ya gak teman?” (sambil menoleh ke teman lainnya)
Nizam : ”Iya...An...!” kalau ada masalah bilang aja. Kalau masalah cewek, Aku jagonya!”
Amin : ”Kalau masalah tawuran, aku orangnya!” (sambil memukul-mukul dada)
Andi : (melihat ketiga temannya dengan sedikit senyum) “Trima kasih teman-teman!” Kalian baik, mengerti aku”
Nizam : “ Oke frend, tak tunggu di pangkalan biasa!” (pergi meninggalkan Andi) (sambil bertingkah)
(Iringan musik sendu)
Sementara Andi masih duduk di pinggir jalan. Dalam hatinya masih teringat ajakan teman-temannya yang mengajak main dan ngamen untuk menghilangkan masalah di rumahnya.
(Andi terlihat bingung dan bergulatlah isi hatinya, Dalam telanganya seperti ada yang membisikkan kata-kata ajakan)
Bisikan Jahat : ” Ayo,,Andi ikut aja ajakan teman-teman kamu tadi, dari pada kamu di rumah tidak perna diberikan kasi sayang! Ayooo ikut aja......ayo...Andi!
Bisikan Baik: ”Jangan Andi, kalau kau ikut mereka, maka kau tidak akan menyesal, apa kau mau seperti mereka yang hidupnya di jalan, minum-minum dan tidak perna sholat)
Bisikan Jahat : ”Jangan dengarkan kata itu, kamu harus bebaskan dirimu, jangan hanya melamun sendiri ayo...gabung...dengan mereka.!”
Bisikan Baik ”Jangan Andi ikut meraka....meyesal kamu nanti,
Bisikan Baik dan Jahat bergantian mengaung di telinga kanan dan kiri dengan kata-kata: Ayoo.... jangan......6x bergantian.
Ilustrasi : Pada saat Adi berjuang menentukan sikap dari bisikan. Datanglah teman Andi satu kelas bernama Ismail dari lopor koran. Mail melihat Andi bingung dan langsung menghampiri.
Ismail : “ Andi!”..... kok belum pulang!” 3X (ditangan dan di tas Mail ada koran)
Andi : “ Bel,bel, belum Mail, Belum, malas pulang..!” (kaget dan bingung)
Ismail : “ Kok malas!” rumah kamu besar, ada kolam, taman yang indah dan semua ada. Apa yang kamu butuhkan langsung terpenuhi!”
Bedah dengan aku, semua serba kekuangan, tapi aku ihklas dan bersukur bapak dan ibu menyayangiku.
Andi : “ Itulah Mail, aku iri sama kamu”
Ismail : ” Apa yang membuat kamu iri Mail?”
Andi : ” Orang tuamu sangat menyayangi kamu, sedangkan aku....!”
Hampir setiap hari tidak bertemu dengan kedua orang tuaku. Mereka sibuk, sibuk dan sibuk!”
Ismail : (mendengarkan dan agak terkejut melihat nasib Andi) ” Sabar An..!”
Kalau begitu maafkan aku, kalau mau,... mari ke rumahku!’
Andi : ”Terima kasih, Il...saya nanti ,merepotkan kamu.. dan keluarga kamu!
Ismail : ” Jangan gitu, kita kan teman” (sambil memukul pundak Andi), Ibukku pasti senang”! Ayo.....
Andi : (mengikuti ajakan Ismail)
Sementara di tempat lain, Alman dan teman-temannya asyik mabok dan minum-minuman keras. Meraka benar-benar menikmati kebebasan. Sampai kapan meraka menghabiskan waktunya hanya hura-hura. Dan apakah orang tua mereka sudah tidak peduli lagi dengan anak-anaknya, kasihan sekali.
Adegan: 3
Alman : (masuk setting panggung sambil jalan mabok) ”Ayo kawan haapy-haapy terus...Kita nikmati hidup ini mumpung masih mudah. Ha..ha..ha..
Teman lain : ” Betu-betul. Kamu memang betul kawan, untuk apa sekolah, orang tua kita pun tidak mau tahu, ....Untuk apa di rumah orang tua kita sibuk dengan urusannya. Mendinga kita ....bebas. Bebas...apa saja,,,oke...!
Teman lain: ” Minum lagi.....
Alman : ” Gimana kabarnya teman kita itu, Andi.... saya kasihan juga. Orang tuanya kaya, tapi sama dengan kita,...tidak diurusi. Kita ajak ia begabung, kami tunggu kawan. Ayo...cabut mumpung belum ada satpol PP. ( Berjalan dengan gontai dan terawa-tawa)
Adegan 4
Setelah seharian bekerja dan menunggu Andi yang tidak pulang, Kang Dadang ketiduran di kursi tamu. Kemudian tuan dan nyonya yang siap berangkat ke kantor...
Tuan : ” Mang...bangun!” 2x
Nyonya : (Masi sibuk merias diri, mengaca dan membenahi benges).
Mang Dadang : “ Maling-maling, maling-maling” (bangun dengan terkejut )
Nyonya : ”Mang....!
Mang Dadang : ” Ya, ..ya,... tuan!, maaf saya kir ada maling.
Tuan : “Ke mana Andi, kok tidak ada di kamarnya?”
Nyonya : ”Mamang..ke mana aja, ...kerjanya tidur aja.
Mang Dadang : ”Maaf, Tuan,....saya yang salah!”
Tuan : ” Semua Mama yang salah, sebagai Ibu seharusnya mengurus rumah”
Nyonya : ” Apa.....Papa, nyalahkan Mama...Berapa gaji Papa,...
Paling-paling Cukup untuk bayat listrik dan air aja. Terus keperluan yang lain......dari mana?...Pa...mikir......!...
Papa saja yang di ngurus rumah.
Tuan : ” Papa ini laki-laki, kepala keluarga...berapapun gaji Papa kamu harus menerima, dan bersyukur....
Nyonya : ”Pokoknya Mama tidak mau di rumah, titik!. Udah siang Papa harus berangkat!”
Tuan : ” Papa juga..! Mang Jaga rumah!”
Mamang Dadang : ” ya...Tuan!”
” Rumah kok kayak terminal, pulang-pergi, pulang-pergi. Ya...Allah..
Berikan petunjuk kepada Tuan dan Nyonya. Kasihan Den Andi.
”Masak dulu...kalau-kalau Den Andi pulang.”
Adegan 5
Di rumah yang sederhana keluarga Mail sangat bahagia. Kedua orang tuanya sangat menyayangi. Sore yang ceria Mak Ijah sedang melipat dan menata baju milik tetangga yang menyuruh. Tiba-tiba Mail datang bersama Andi.
(Iringan Musik ............................)
Mail : ”Asalamu’alaikum”, Mak....Mak....Mail pulang...!
Emak : ”Wa’alaikum Salam” Mail.....sama siapa....?
Mail : (mencium tangan Mak), ya Mak, ini Mail... (mail mencium tangan Emak) Mail....boleh tidur di sini Mak.....
Emak : ” Emangnya ada apa....”
Mail : “ Gak tau la, Mak” tanya aja sama Andi..!”
Andi : ” Saya tidak kerasan di rumah, Mak...Mama dan Papa sibuk dengan pekerjaannya, hampir setiap hari saya bersama Mang Dadang pembantu di rumah. Walau semua keperluan tercukupi, tapi saya muak dengan itu semua. ” Boleh,,, saya tinggal di sini aja, Mak?”
Emak : ” Boleh...tapi rumah Mail...tidak sebaik rumah kamu...!
Andi : ” Terima kasih Mak, saya senang di sini...!”
Emak : “ Ya...boleh. Mail... ajak Andi ke belakang, suru mandi...dan ajak makan!
Emak : “ Ada.... aja, wong semua ada, harta berlimpa kok miskin.” miskin kasi sayang”. Syukur Mak dan keluarga, meskipun miskin, tapi hidup Emak dan keluarga tetap rukun, bahagia penuh dengan kasi sayang.”
Di luar sana, keluarga Papa dan Mama Andi masi sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka tetap mempertahankan egonya. Hatinya sudah dibutahkan oleh Harta dan kekayaan dunia yang sesaat. Sementara anak semata wayang, buah cinta kasi sayang,... diterlantarkan. Mereka menganggap harta dapat membahagiakan anaknya.
Sudah dua minggu Andi tidak pulang. Andi merasa tenang bersama Ismail dan Keluarganya. Imail dan Andi berangkat dan pulang bersama. Mereka seperti saudara. Suatu hari sepulang dari sekolah Andi dan Ismail berjalan kaki menyusuri jalan kampung menuju rumah. Secara kebetulan Kedua Orang tua Andi melihat Andi. Diikuti dan terhalang oleh rumah-rumah, masuk gang sempit. Kedua orang tua dengan mobil Sedannya mengikuti terus, sambil menyesali kesalahannya. Masuklah Andi dan Ismail di rumah yang sederhana dengan senangnya. Sayup-sayup terdengar dari luar, gurau dan canda Andi dan Ismail, sesekali emak menyahut, didengar kedua orang yang ada di dalam mobil Sedan itu. Datanglah kedua orang tua Andi ke rumah sederhana itu.
Adegan 6
Papa/Mama : ” Assalamu,alaikum....” 3x
Emak : ”Wa’alaikum salam...” mau nemui siapa Pak..!”
Papa : ”Maaf Bu...Saya mau tanya apa anak saya ada di sini?”
Emak : ”Anak...! Siapa namanya?”
Mama : ”Andi, anak kami Bu..! tadi saya lihat Andi masuk rumah ini!
Emak : ”Bapak/Ibu ini orang tuanya Andi..ya?
Papa/mama : ”Ya..Buk..! sudah tiga bulan Andi tidak pulang. Kami cari ke semua tempat dan teman-temannya tidak ada yang tahu.
Emak : ”Ya...Anak Bapak/Ibu memang ada di di sini. Anak Ibu teman satu sekolah dengan anak kami.”
Mama : “Terima kasih Buk...! kami mengakui, salah. Kami tidak perna memperhatikan keadaan Andi. Kami sangat sibuk dengan urusan pekerjaaan dan mementingkan harta dan harta. (mengusap air mata dengan sapu tangan).
Papa : ”Ya..Buk....kami sadar,..harta yang kami kumpulkan ternyata tidak dapat membahagiakan Andi.” Hampir setiap hari kami tidak tidak perna bertemu. Sekarang kami ingin memberikan kasih sayang yang sepenuhnya kepada Andi.”
Mama : ” Sekarang Andi mana Buk..?”
Emak : ” Sebentar, saya panggilkan!” Mail,....Andi suruh ke sini!”
(Andi keluar dengan agak enggan bertemua kedua orang tuanya)
Mama : “ Andi maafkan Mama dan Papa, An....
Mama,..menyesal tidak memperhatikan kamu. “Ayo..pulang..Nak..!
Kita awali hidup yang baru.
Papa/Mama : “ Buk... terima kasih....selama ini telah membantu dan memberikan perlindungan kepada anak kami, untuk itu kami bemaksud memberikan bantuan biaya sekolah kepada Mail agar dapat sekolah dengan Andi. Saya mohon Buk...!” (Mail dan Andi salaing memandang).
Emak : “Terima kasih, tuan, kami ihklas...Andi saya anggap seperti anak kami sendiri.” Tidak mengharap imbalan apa-apa. Apa tidak memberatkan Bapak/Ibu?”
Papa : ”Kami ihklas, Buk..!”
Mama : ”Ya... kami ihklas.. biar Andi...kami sekolahkan sampai perguruan tinggi.” Apalagi kedua anak ini sudah seperti saudara.
Emak : ”Terima kasih kami sampaikan.
Ending : Kedua orang tua Andi berpamitan kepada orang Ismail. Mereka pulang dengan muka senduh. Ada penyesalan dan harapan untuk memperbaiki kekhilafan yang selama ini dilakukan. Sementara, Emak mendekap Mail sambil mengucapkan selamat jalan kepada kedua orang tua Andi.
Kita harus dapat mengambil pesan dari cerita drama tadi:
1. Orang tua harus selalu mengawasi anak-anaknya.
2. Kebahagiaan bukan dari harta yang berlimpa, tetapi perhatian dan kasih sayang.
3. Kedua orang tua sangat berperan membentuk watak anak, buka bapa atau ibu saja.
4. Marilah jadi anak dan orang tua yang baik ntuk jadikan keluarga yang berbahagia. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar