Kamis, 03 Juni 2010

SASTRA

JUDUL : Hati Yang Gersang
Karya : Mahmudiono, S.Pd.
Pelaku : 1. Mama (wanita karier) Oleh: .................................................
2. Papa (Penguasaha Sukses) Oleh: .................................................
3. Andi (anak) Oleh: .................................................
4. Pembantu Oleh: .................................................
5. Mak Ijah (buru cuci baju) Oleh: .................................................
6. Bapak (Tukang becak) Oleh: .................................................
7. Ismail ( Anak miskin) Oleh: .................................................
7. Alman (Teman Andi) Oleh: .................................................
8. Nizam (Teman Andi) Oleh: .................................................
9. Amin (Teman Andi) Oleh: .................................................

Ilustrasi : (dibaca sebelum pelaku masuk)
Kebahagiaan ternyata tidak diukur karena harta yang berlimpah. Rumah mewah bertingkat tiga, mobil dari merek-merek ternama, dan uang bagai dauan-daun berserakan di rumah. Apalah artinya kalau dalam keluarga tidak ada kasih sayang, dan betegur sapa. Sibuk dan sibuk demi karier dan mengorbankan anaknya. Mereka beranggapan dengan uang, semua dapat dibeli. Keluarga bak neraka.

Sementara di luar sana begitu banyak keluarga yang kelaparan, anak-anak menangis karena orang tuanya tidak punya uang, dan anak putus sekolah karena bapaknya tukang becak sedangkan ibunya hanya buru cuci, namun kasih sayang kedua orang tua menyejukkan hati dan terpancar kasih sayang yang tulus, sungguh suatu keadaan yang berbeda.
Bagaimanakah cerita selengkapnya …..mari kita ikuti!
(Iringan musik .......................)

Adegan 1:
Pak Dadang : ( Masuk rumah membawa ’Sulak’ dan ”serbet” sambil nyapu membersihkan lantai lalu kursih) ” Nasib, nasib. Hidup ini kok begini. 20 tahun jadi pembantu di rumah Tuan Herry kok ndak berubah, tetap membawa sapu dan bersih-bersih. Tapi saya heran dengan keluarga ini. Uang banyak, harta berlimpah, kok bagai di neraka. Tuan pulang..pergi, pulang ..pergi. kayak mobil di terminal. Begitu juga Nyonya...
Berangkat pagi....pulang tengah malam. Hampir tidak ada pertemuan. Kasihan…Mas Andi! Hampir tidak ada yang menayapa
Tiap hari tidur sendiri, makan, berangkat dan pulang hanya saya yang menyapa. Kasihan…kasihan.

Andi : “ Mang! Papa dan Mama Belem pulang? (kesal, dan capek dari sekolah)
Mang Dadang : ” Belum Mas!” (nada kasihan melihat Andi)
Andi : (duduk di kursi, sambil merebahkan kepala ke sandaran kursi)
Mang Dadang : ” Mas ...apa ndak mandi dulu,.. biar segar, Air hangat sudah ada dan makanan siap di meja makan”
Andi : ” Iyah Mang. Ma kasih” ( berjalan dengan jalan guntai, lemas)
Mang Dadang : ” Kasihan Mas..Andi. Seng kebacot...Tuan dan Nyonya. Bapak-Bapak, Ibu-ibu, jangan seperti Tuan dan Nyoya. (lalu berjalan masuk)
(Iringan musik keluar ....................)

Adegan II:
(Iringan musik masuk. ..................)
Ilustrasi :
Andi duduk-duduk di pinggir jalan sepulang dari sekolah. Kelihatan bingung memikirkan nasib dirinya. Papa Mamanya sibuk dengan kerja masing-masing. Kemanakah Andi akan mencurahkan semua isi hatinya? Mari kita saksikan.....

Andi : (Duduk dipinggir jalan sehabis sekolah)
(Ketiga Teman Andi Nizam, Amin, Alman habis ngamen)
Alman : ”Hai Frend, kelihatnya punya masalah?” Curhat dong sama kami! Mungkin kami bisa bantu, ya gak teman?” (sambil menoleh ke teman lainnya)
Nizam : ”Iya...An...!” kalau ada masalah bilang aja. Kalau masalah cewek, Aku jagonya!”
Amin : ”Kalau masalah tawuran, aku orangnya!” (sambil memukul-mukul dada)
Andi : (melihat ketiga temannya dengan sedikit senyum) “Trima kasih teman-teman!” Kalian baik, mengerti aku”

Nizam : “ Oke frend, tak tunggu di pangkalan biasa!” (pergi meninggalkan Andi) (sambil bertingkah)

(Iringan musik sendu)
Sementara Andi masih duduk di pinggir jalan. Dalam hatinya masih teringat ajakan teman-temannya yang mengajak main dan ngamen untuk menghilangkan masalah di rumahnya.
(Andi terlihat bingung dan bergulatlah isi hatinya, Dalam telanganya seperti ada yang membisikkan kata-kata ajakan)
Bisikan Jahat : ” Ayo,,Andi ikut aja ajakan teman-teman kamu tadi, dari pada kamu di rumah tidak perna diberikan kasi sayang! Ayooo ikut aja......ayo...Andi!
Bisikan Baik: ”Jangan Andi, kalau kau ikut mereka, maka kau tidak akan menyesal, apa kau mau seperti mereka yang hidupnya di jalan, minum-minum dan tidak perna sholat)
Bisikan Jahat : ”Jangan dengarkan kata itu, kamu harus bebaskan dirimu, jangan hanya melamun sendiri ayo...gabung...dengan mereka.!”
Bisikan Baik ”Jangan Andi ikut meraka....meyesal kamu nanti,
Bisikan Baik dan Jahat bergantian mengaung di telinga kanan dan kiri dengan kata-kata: Ayoo.... jangan......6x bergantian.

Ilustrasi : Pada saat Adi berjuang menentukan sikap dari bisikan. Datanglah teman Andi satu kelas bernama Ismail dari lopor koran. Mail melihat Andi bingung dan langsung menghampiri.

Ismail : “ Andi!”..... kok belum pulang!” 3X (ditangan dan di tas Mail ada koran)
Andi : “ Bel,bel, belum Mail, Belum, malas pulang..!” (kaget dan bingung)
Ismail : “ Kok malas!” rumah kamu besar, ada kolam, taman yang indah dan semua ada. Apa yang kamu butuhkan langsung terpenuhi!”
Bedah dengan aku, semua serba kekuangan, tapi aku ihklas dan bersukur bapak dan ibu menyayangiku.
Andi : “ Itulah Mail, aku iri sama kamu”
Ismail : ” Apa yang membuat kamu iri Mail?”
Andi : ” Orang tuamu sangat menyayangi kamu, sedangkan aku....!”
Hampir setiap hari tidak bertemu dengan kedua orang tuaku. Mereka sibuk, sibuk dan sibuk!”
Ismail : (mendengarkan dan agak terkejut melihat nasib Andi) ” Sabar An..!”
Kalau begitu maafkan aku, kalau mau,... mari ke rumahku!’
Andi : ”Terima kasih, Il...saya nanti ,merepotkan kamu.. dan keluarga kamu!
Ismail : ” Jangan gitu, kita kan teman” (sambil memukul pundak Andi), Ibukku pasti senang”! Ayo.....
Andi : (mengikuti ajakan Ismail)

Sementara di tempat lain, Alman dan teman-temannya asyik mabok dan minum-minuman keras. Meraka benar-benar menikmati kebebasan. Sampai kapan meraka menghabiskan waktunya hanya hura-hura. Dan apakah orang tua mereka sudah tidak peduli lagi dengan anak-anaknya, kasihan sekali.
Adegan: 3

Alman : (masuk setting panggung sambil jalan mabok) ”Ayo kawan haapy-haapy terus...Kita nikmati hidup ini mumpung masih mudah. Ha..ha..ha..
Teman lain : ” Betu-betul. Kamu memang betul kawan, untuk apa sekolah, orang tua kita pun tidak mau tahu, ....Untuk apa di rumah orang tua kita sibuk dengan urusannya. Mendinga kita ....bebas. Bebas...apa saja,,,oke...!
Teman lain: ” Minum lagi.....
Alman : ” Gimana kabarnya teman kita itu, Andi.... saya kasihan juga. Orang tuanya kaya, tapi sama dengan kita,...tidak diurusi. Kita ajak ia begabung, kami tunggu kawan. Ayo...cabut mumpung belum ada satpol PP. ( Berjalan dengan gontai dan terawa-tawa)

Adegan 4
Setelah seharian bekerja dan menunggu Andi yang tidak pulang, Kang Dadang ketiduran di kursi tamu. Kemudian tuan dan nyonya yang siap berangkat ke kantor...
Tuan : ” Mang...bangun!” 2x
Nyonya : (Masi sibuk merias diri, mengaca dan membenahi benges).
Mang Dadang : “ Maling-maling, maling-maling” (bangun dengan terkejut )
Nyonya : ”Mang....!
Mang Dadang : ” Ya, ..ya,... tuan!, maaf saya kir ada maling.
Tuan : “Ke mana Andi, kok tidak ada di kamarnya?”
Nyonya : ”Mamang..ke mana aja, ...kerjanya tidur aja.
Mang Dadang : ”Maaf, Tuan,....saya yang salah!”
Tuan : ” Semua Mama yang salah, sebagai Ibu seharusnya mengurus rumah”
Nyonya : ” Apa.....Papa, nyalahkan Mama...Berapa gaji Papa,...
Paling-paling Cukup untuk bayat listrik dan air aja. Terus keperluan yang lain......dari mana?...Pa...mikir......!...
Papa saja yang di ngurus rumah.
Tuan : ” Papa ini laki-laki, kepala keluarga...berapapun gaji Papa kamu harus menerima, dan bersyukur....
Nyonya : ”Pokoknya Mama tidak mau di rumah, titik!. Udah siang Papa harus berangkat!”
Tuan : ” Papa juga..! Mang Jaga rumah!”
Mamang Dadang : ” ya...Tuan!”
” Rumah kok kayak terminal, pulang-pergi, pulang-pergi. Ya...Allah..
Berikan petunjuk kepada Tuan dan Nyonya. Kasihan Den Andi.
”Masak dulu...kalau-kalau Den Andi pulang.”
Adegan 5
Di rumah yang sederhana keluarga Mail sangat bahagia. Kedua orang tuanya sangat menyayangi. Sore yang ceria Mak Ijah sedang melipat dan menata baju milik tetangga yang menyuruh. Tiba-tiba Mail datang bersama Andi.
(Iringan Musik ............................)
Mail : ”Asalamu’alaikum”, Mak....Mak....Mail pulang...!
Emak : ”Wa’alaikum Salam” Mail.....sama siapa....?
Mail : (mencium tangan Mak), ya Mak, ini Mail... (mail mencium tangan Emak) Mail....boleh tidur di sini Mak.....
Emak : ” Emangnya ada apa....”
Mail : “ Gak tau la, Mak” tanya aja sama Andi..!”
Andi : ” Saya tidak kerasan di rumah, Mak...Mama dan Papa sibuk dengan pekerjaannya, hampir setiap hari saya bersama Mang Dadang pembantu di rumah. Walau semua keperluan tercukupi, tapi saya muak dengan itu semua. ” Boleh,,, saya tinggal di sini aja, Mak?”
Emak : ” Boleh...tapi rumah Mail...tidak sebaik rumah kamu...!
Andi : ” Terima kasih Mak, saya senang di sini...!”
Emak : “ Ya...boleh. Mail... ajak Andi ke belakang, suru mandi...dan ajak makan!
Emak : “ Ada.... aja, wong semua ada, harta berlimpa kok miskin.” miskin kasi sayang”. Syukur Mak dan keluarga, meskipun miskin, tapi hidup Emak dan keluarga tetap rukun, bahagia penuh dengan kasi sayang.”

Di luar sana, keluarga Papa dan Mama Andi masi sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka tetap mempertahankan egonya. Hatinya sudah dibutahkan oleh Harta dan kekayaan dunia yang sesaat. Sementara anak semata wayang, buah cinta kasi sayang,... diterlantarkan. Mereka menganggap harta dapat membahagiakan anaknya.

Sudah dua minggu Andi tidak pulang. Andi merasa tenang bersama Ismail dan Keluarganya. Imail dan Andi berangkat dan pulang bersama. Mereka seperti saudara. Suatu hari sepulang dari sekolah Andi dan Ismail berjalan kaki menyusuri jalan kampung menuju rumah. Secara kebetulan Kedua Orang tua Andi melihat Andi. Diikuti dan terhalang oleh rumah-rumah, masuk gang sempit. Kedua orang tua dengan mobil Sedannya mengikuti terus, sambil menyesali kesalahannya. Masuklah Andi dan Ismail di rumah yang sederhana dengan senangnya. Sayup-sayup terdengar dari luar, gurau dan canda Andi dan Ismail, sesekali emak menyahut, didengar kedua orang yang ada di dalam mobil Sedan itu. Datanglah kedua orang tua Andi ke rumah sederhana itu.

Adegan 6
Papa/Mama : ” Assalamu,alaikum....” 3x
Emak : ”Wa’alaikum salam...” mau nemui siapa Pak..!”
Papa : ”Maaf Bu...Saya mau tanya apa anak saya ada di sini?”
Emak : ”Anak...! Siapa namanya?”
Mama : ”Andi, anak kami Bu..! tadi saya lihat Andi masuk rumah ini!
Emak : ”Bapak/Ibu ini orang tuanya Andi..ya?
Papa/mama : ”Ya..Buk..! sudah tiga bulan Andi tidak pulang. Kami cari ke semua tempat dan teman-temannya tidak ada yang tahu.
Emak : ”Ya...Anak Bapak/Ibu memang ada di di sini. Anak Ibu teman satu sekolah dengan anak kami.”
Mama : “Terima kasih Buk...! kami mengakui, salah. Kami tidak perna memperhatikan keadaan Andi. Kami sangat sibuk dengan urusan pekerjaaan dan mementingkan harta dan harta. (mengusap air mata dengan sapu tangan).
Papa : ”Ya..Buk....kami sadar,..harta yang kami kumpulkan ternyata tidak dapat membahagiakan Andi.” Hampir setiap hari kami tidak tidak perna bertemu. Sekarang kami ingin memberikan kasih sayang yang sepenuhnya kepada Andi.”
Mama : ” Sekarang Andi mana Buk..?”
Emak : ” Sebentar, saya panggilkan!” Mail,....Andi suruh ke sini!”
(Andi keluar dengan agak enggan bertemua kedua orang tuanya)
Mama : “ Andi maafkan Mama dan Papa, An....
Mama,..menyesal tidak memperhatikan kamu. “Ayo..pulang..Nak..!
Kita awali hidup yang baru.
Papa/Mama : “ Buk... terima kasih....selama ini telah membantu dan memberikan perlindungan kepada anak kami, untuk itu kami bemaksud memberikan bantuan biaya sekolah kepada Mail agar dapat sekolah dengan Andi. Saya mohon Buk...!” (Mail dan Andi salaing memandang).
Emak : “Terima kasih, tuan, kami ihklas...Andi saya anggap seperti anak kami sendiri.” Tidak mengharap imbalan apa-apa. Apa tidak memberatkan Bapak/Ibu?”
Papa : ”Kami ihklas, Buk..!”
Mama : ”Ya... kami ihklas.. biar Andi...kami sekolahkan sampai perguruan tinggi.” Apalagi kedua anak ini sudah seperti saudara.
Emak : ”Terima kasih kami sampaikan.

Ending : Kedua orang tua Andi berpamitan kepada orang Ismail. Mereka pulang dengan muka senduh. Ada penyesalan dan harapan untuk memperbaiki kekhilafan yang selama ini dilakukan. Sementara, Emak mendekap Mail sambil mengucapkan selamat jalan kepada kedua orang tua Andi.
Kita harus dapat mengambil pesan dari cerita drama tadi:
1. Orang tua harus selalu mengawasi anak-anaknya.
2. Kebahagiaan bukan dari harta yang berlimpa, tetapi perhatian dan kasih sayang.
3. Kedua orang tua sangat berperan membentuk watak anak, buka bapa atau ibu saja.
4. Marilah jadi anak dan orang tua yang baik ntuk jadikan keluarga yang berbahagia. Amin.

SASTRA

JUDUL DRAMA:
DOKTER GILA

PEMAIN-PEMAIN:

SEBAGAI ORANG GILA
SEBAGAI PERAWAT
SEBAGAI DOKTER RSJ
SEBAGAI PASIEN 1
SEBAGAI BAPAK
SEBAGAI ANAK
SEBAGAI PASIEN 2
SEBAGAI BAPAK 2
SEBAGAI SATPAM

KARAKTER-KARAKTER PEMAIN:
1. Orang gila: seorang laki-laki yang mengalami gangguan jiwa, ingin menjadi seorang
2. dokter, selalu ingin kabur setiap ada kesempatan.
3. Perawat : orang yang sabar merawat orang-orang gila di sebuah rumah sakit jiwa.
4. Dokter RSJ : seorang laki-laki bertanggung jawab dengan pasien nya
5. Pasien 1: seorang yang mengalami gangguan jiwa
6. Bapak: seorang yang baik, selalu menghawatirkan anaknya
7. Anak : seorang anak laki-laki yang mengalami kelainan
8. Pasien 2: pasien yang sakit karena mengalami problema
9. Satpam: bekas penghuni rumah sakit jiwa

Suasana di Rumah sakit jiwa tampak sepi, hanya terlihat pasien lagi bingung jalan mondar-mandir sendirian.
Orang gila : Bosen…..bosen disini Cuma ada suster, dokter yang sempel. (berfikir)
Enaknya ngapain ya?
Perawat : (sambil menulis dan membaca) ini kaki ini mata. Ini kaki mata sakit
Orang gila : (memanggil) perawat…..
Perawat : Ada apa/ mengganggu orang saja.
Orang gila : bosan nih tiap hari perawat terus yang tak lihat.
Suster : Kalau bosen lihat aku, sana lihat film di bioskop!!
Orang gila : Bener nih? Yes…Asyik. Hore….(out stage)
Suster : Iya cepat sana pergi!! Dasar orang gila. Edan!(tiba-tiba kaget) lho dia
kan pasien ku. (memenggil) he! Orang gila tunggu..wah gawat….(out stage)
(In stage Dokter Rumah sakit Jiwa)
Dokter RSJ : Sebel. Tiap hari ngurusi orang gila. Lama-lama aku bisa ketularan.
(kepada penonton) He, tau nggak? Sebenarnya cita-citaku ingin jadi cover
boy. (sambil memperagakan) coba lihat! Body kayak Primus. Rambut
keren kayak Raffi ahmad. Senyum ku kan manis. Gimana penonton? Ok
nggak? (Tiba-tiba sebel lagi) Hem…dari pagi sampai sekarang nggak ada
pasien. Pulang dulu ah….(out stage)
Orang gila : (tertawa) hahahaha dasar suster edan. Tak tipu. (kaget) lho, ini kan
tempat dokter! Kebetulan. Oh ya dulu aku kan pengen jadi dokter.
Sekarang nyoba’jadi dokter ah…mumpung sepi tidak ada dokter
nya.(masuk ruang dokter) inilah ruangan yang aku impikan. Ini baju
ku(duduk) ini kursiku, ini mejaku dan ini alat periksaku. Nah ini….
Suntikku, dan sekarang aku menjadi dokter. Pantes kan…(memperagakan)
(in stage pasien)
Pasien 1 : Permisi…..
Orang gila : Oh…monggo. Silahkan duduk!
Pasien 1 : Dok, tolong…..
Orang gila : (bergaya) ya, jelas dong, dokter kan orang pinter. Apa sampeyan bisa menyanyi “kodok ngorek”
Pasien 1 : Dok saya ini bukan penyanyi, kok disuruh nyanyi sih?
Orang gila : Mau apa ndak? Kalau tidak mau, cari dokter lain saja bagaimana?
Pasien 1 : Dokter ini ada ada saja, ya sudah baik lah (menyanyi kodok ngorek)
Orang gila : Bagus, suaramu seperti piring pecah
Pasien 1 : lho masak suara saya dibilang seperti piring pecah.
Orang gila : kamu sakit apa?
Pasien 1 : bukan saya yang sakit, tapi anak saya.
Orang gila : masak kamu tidak sakit? Tapi sebaiknya kamu juga diperiksa, siapa tau ada penyakit bersarang ditubuhmu.
Pasien 1 : saya kan ndak sakit masak harus diperiksa (jengkel) dokter jangan main paksa ! mangkel aku
Orang gila : oke…oke kalau tidak mau diperiksa kamu diam saja. (memeriksa mata) wah mata nya merah(memegang hidung) wah hidung mu kotor. Kamu pasti jorok ya tidak pernah mandi.
Pasien 1 : enak aja, dokter saya ini mandi sehari 3 kali, kok dibilang jorok. Saya nggak percaya dengan dokter, dasar dokter gila.(out stage)
Orang gila : hahahahaha
(in stage perawat)
Perawat : permisi…permisi…Maaf saya mengganggu kesenangan Tuan dokter.
Orgil : Oh...ada orang to! Tadi kamu ngomong apa?
Perawat: Maaf jika saya mengganggu kesenangan Tuan dokter.
Orgil : Oh...tidak apa-apa, karena saya ini sering diganggu. Dan saya suka mengganggu. Apa bisa saya bantu?
Perawat: Saya mau tanya Tuan dokter. Apa tuan melihat pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa?
Orgil : (salah paham) He! Jangan sebut saya orang gila.
Perawat: Lho, yang gila itu bukan tuan, tapi pasien saya dari rumah sakit jiwa.
Orgil : Oooo...Sampeayan mau tanya to?
Perawat: Bagaimana? Apa tuan melihat pasien saya yang gila?
Orgil : sorry, saya tidak mau berurusan dengan orang gila.
Perawat: Ya. Saya terima kasih. Permisi!
Orgil : (Memanggil) Stop! Stop! Sebentar! Apa kamu sebaiknya tidak diperiksa dulu?
Perawat: Ah .. dokter ini ada-ada saja. Orang gak sakit kok mau diperiksa. Saya kan nggak sakit.
Orgil : Siapa bilang kamu ini nggak sakit. Setiap orang pasti ada penyakitnya. Mau diperiksa apa nggak?
Perawat: Tapi...
Orgil : Sudahlah nggak usah mbayar, Gratis.
Perawat: (Kagum) Wah, dokter ini hebat benar. Bisa menebak saya, bener..gratis, dok?
Orgil : Sueer! Asli nggak usah bayar.
Perawat: Dengan senang hati, dok.
Orgil : Silahkan tidur! (memaksa pasien)
Perawat: Bagaimana, dok? Apaku yang sakit?
Orgil : Parah. Sangat parah sekali.
Perawat : (ketakutan) Parah, dok. Aduh, gimana nih,dok? Tiba-tiba kok jadi parah.
Orgil : Otak kamu mau pecah, paru-paru kamu hampir hilang, hidung kamu lecet, ususmu usus buntu, kamu pasti kedinginana kan?
Perawat: Apa yang harus aku lakukan, dok?
Orgil : Sholat yang banyak, beli kain kafan, siapkan orang buat tahlilan.
Perawat: Terima kasih dok. (Out sambil menirukan omongan orgil)
Orgil : (Tertawa) Ha... ha....ha...rasain kamu. Sekarang yang gila kamu (tertawa lagi)

( In Stage anak dan Bapak)
Anak : (Menangis) Hi..hi..hi..ha..ha
Bapak : Sudah jangan nangis terus.
Anak :( Semakin keras tangisannya )
Bapak : itu kan salah kamusendiri. Sudah Miami cup! Meneng!
Anak : (Diam sebentar, Nangis lagi)
Bapak : ( Jengkel) Oh..tak gepu’i kon ongkok. Ayo terusno! ( sambil ambil gepuk) Dok, tolong anak saya, Dok.
(4)
Orgil : Anak ibu sakit apa?
Bapak : kalau malam bisu, dok
Orgil : Kalau pagi sampai siang?
Bapak : Ngomongnya megap-megap, Dok.
Orgil : Sudah berapa lama?
Bapak : Kira-kira satu minggu Dok.
Orgil : Jangan kuatir (Mendekati si Anak) kamu kenapa neng?
Anak : Ha-Hi-Ho-He
Orgil : Kenapa?
Anak : Ha-Hi-Ho-He
Orgil : ( Mendekat ke Ibu) ini penyakit tidak main-main butuh penanganan khusus. Ini resepnya ( Sambil nulis) Kapur Barus, racuntikus, di campur dengan made sedikit spiritus, dan jangan lupa zaheri di minum 10x. Saya jamin anak ibu langsung Qoit?
Orgil : Qoit? Qoit itu apaan Dok?
Orgil : langsung sembuh
Bapak : Makasih, Dok. Permisi. (Mau keluar,tiba-tiba orgil memanggil)
Orgil : E...e...e..sebentar! Besok langsung ke sini untuk disuntik. (sambil bawa suntik)
Bapak : Pasti, Dok, jangan kuatir, selamat sore. ( Out stage dengan si anak)
Orgil : Selamat sore dan selamat ver-Qoid. (kelelahan)Huh...capek banget sudah dapat tiga pasien. Mau jalan-jalan, biar nggak stress.
(out stage)
(In Stage Rumah Sakit Jiwa)
Dokter RS :(memanggil) suster…suster
Perawat : (masih di belakang panggung) sebentar dok.
Dokter RS : (Memanggil semakin keras) Suster !
Perawat : (Lari tergoboh-goboh) ya, Dok! Siap!
Dokter : Kenapa pasien itu bisa lepas?
Perawat : Maaf Dok.. saya yang salah.
Dokter RS : Ya, jelas kamu yang salah, masak saya?
Perawat : tapi, Dok..
Dokter RS : Tidak ada tapi-tapian, sekarang juga panggil satpam dan suruh ke sini!
Perawat : Sekarang, Dok?
Dokter RS : Ya, sekarang tolol. Ayo cepet!
Perawat : Baik Dok ( out stage)
Dokter RS : Dasar, masak suruh jaga pasien satu saja nggak becus.
(in stage pasien 2 dan bapak)
Pasien 2 : (tertawa) Ha..ha..hi..hi..
(5)
Bapak 2 : (Memukul punggung anaknya) permisi, dok. Mohon anakku diperiksa. Sudah tiga hari anakku tertawa sendiri, kalau bisa buang sekalian otaknya.
Dokter RS : Bukankah itu anak bapak?
Bapak 2 : Saya tidak peduli, dok. Barang kali kalau otaknya di buang anak saya bisa cepat sembuh.
Dokter RS : Sabar-sabar (Mendekati si anak) tak periksa dulu otaknya (memeriksa)
Pasien 2 : (spontan) Alhamdulillah dok, kalau begitu bapak saja yang diperiksa otaknya. (tartawa terus) ha..ha..ha..
Bapak 2 : ( memuklul punggung anaknya sehingga tertawanya berhenti) jadi apa yang harus saya lakukan dok?
Dokter RS : Jangan kuatir ( sambil mendekat) yang harus anda lakukan adalah..(mbisik)
Bapak 2 : ( Kaget) apa? Dikawinkan?
Dokter RS : Sst..jangan keras-keras. Anak bapak sedang dimabok asmara alias gila karena cinta.
Bapak 2 : Oh...jadi penyakitnya itu,dok. Ini pasti gara-gara si Paijo (pamitan). Terima kasih, dok. (memberi uang) ini dok.
Dokter RS : Terima kasih.
Bapak 2 : ( mengajak pulang) ayo pulang!
Pasien 2 : (tertawa) bapakku gila, bapakku gila, bapakku gila ( sambil joget naik meja dokter)
Bapak 2 : Dok, gimana ni, tolong anak saya.
Dokter RS : Jangan kuatir, ( menyuruh si anak turun) Nang-ning-nang- ning-nang
Pasien 2 : (akhirnya pasien turun dari meja)
Bapak 2 : (menggandeng tangan si anak) terima kasih,dok. Mohon pamit dulu. Mari dok.
Dokter RS : Mari-mari, jangan lupa di undang,ya!
Bapak 2 : Beres,itu dok. (dibalik panggung)
( in stage satpam dan perawat)
Satpam : (berhitung) tok-wak-tok-wak-tok-wak
Perawat : Berhenti grak! Hormat pada bu dokter grak!
Dokter RS : (kepada suster) he, sini! Kenapa kamu bawa satpam seperti dia kesini. Apa tidak ada yang lain?
Perawat : Kenapa dengan satpam ini Dok?
Dokter RS : Dia itu mantan alumni rumah sakit ini.
Perawat : Lalu kenapa dok?
Dokter RS : Kan sudah saya bilang, dia itu belum sembuh benar.
Perawat : Trus dok?
Dokter RS : Ya, nggak nyambung tau.
Perawat : Lalu?
Dokter RS : (Makin jengkel) lalu..lalu, terserah kamu saja. Pokoknya pasien gendeng itu harus kamu tangkap bersama satpam ini.
Satpam : siap tangkap grak!
Dokter RS : (Kepada suster) Lho, bener kan?! Dia itu nggak nyambung (marah) kamu harus tanggung jawab! (out stage)
Perawat : Lho dok! (ngomel sendiri) dasar ! dokter gila!
Dokter RS : Sama edannya! (marah & out)
Satpam : Kapan diperintah grak!
Perawat : Laksanakan!
Satpam : Siap grak! Maju..mlaku! (berhitung) tok-wak-tok-wak-tok wak
Perawat : (mengejek) dasar satpam sebleng. Dokternya gendeng! Susternya...oh, cantik kan?!(kepada penonton)lebih baik nyusul satpam itu, saya belum seneng kalo pasien gendeng itu belum ketemu (out)

( in stage anak dan ibu menuju Puskesmas)
Bapak : (sambil menggandeng anaknya) gimana sih dokter ini anakku kok tambah parah begin?
Anak : ( seperti orang epilepsi) Ha-Hi-ha-hi
Bapak : (memanggil) dokter! Dokter! Permisi! Kulo nuwun, Assalamualikum, wah gawat kalo’ dokternya nggak ada.
Dokter : (tiba-tiba masuk) ada yang bisa saya bantu.
Bapak : Oh tidak! Saya tidak perlu pembantu.
Dokter : Lho, sampeyan siapa?
Bapak : He. Mestinya saya yang tanya! Sampeyan siapa?
Dokter : Saya Dokter di sini!
Bapak : Ah..bohong! jangan coba-coba menipu saya.
Dokter : He, bulek! Saya itu dokter asli.
Bapak : Tidak percaya. Kemarin dokternya laki-laki sekarang kok jadi wanita. Sampeyan pasti bohong! Akan aku laporkan ke polisi.
Dokter : Sumpah! Asli bulek! Saya dokter di sini.
Bapak : Ojo guyon. Jangan coba-cobamenipu saya, karena saya adalah tukan tipu. (memberi kepalan tangan) mau kena ini!
Dokter : Saya punya buktinya kalosaya dokter asli.
Bapak : Silakan, mana buktinya kalo sampeyan dokter asli?
Dokter : Kalo’ orang sakit kepala harus minum obat sakit kepala, kalo’ orang sakit mata jangan dikasih obat sakit perut (meyakinkan) bagaimana?
Bapak : (mangut-mangut) Nah begitu! Saya baru percaya sama sampeyan. Mulai sekarang saya panggil Bu Dokter.
Dokter : (lega) terima kasih
Bapak : Bu Dokter! Tolong anak saya, sejak dikasih resep dokter laki-laki itu, anak saya semakin parah.
Dokter : (heran) ada yang nggak beres, pasti kemarin ada orang gila masuk ke sini. Kemarin dikasih resep apa sama dokter laki-laki itu?
Bapak : Kapor barus, Racun tikus dicampur madu dan sedikit spiritus.
Dokter : Nah, tidak salah lagi pasti orang gila.
Bapak : Malah anak saya dijamin langsung Qoid.
Dokter : (tertawa) He, Bulek sampeyan tau artinya Qoid?
Bapak : Nggak tau dok.
Dokter : Qoid itu aratinya mati.
Bapak : Apa? Mati? Pantesan anak saya jadi begini.
Anak : (Tiba-tiba kejang)
Bapak : Bok, tolong anak saya,dok!
Dokter : Cepat! baringkan!
Bapak : Mau diapain dok?
Dokter : Sudah, jangan banyak tanya! (mengambil alat suntik, lalu disuntikkan)
( in stage orang gila)
Orgil : He-he-he-he..Hentikan! stop! (semua diam) Lho, ini kan pasienku. (melihat dokter) lho, sampeyan ini siap berani masuk ruangan dokter.
Bapak : Nah, ini dok orangnya yang ngasih resep.
Dokter : He, kamu orang gila yach? Ayo pergi! Hus..hus..hus..
Orgil : Kamu yang gila. (ganti ngusir) Hus..hus..ini tempat praktekku, ayo out! Keluar..!
Dokter : (ketakutan) HI..Ayo lari bulek! (out stage)
Orgil : (Memegang tangan si ibu) He! Jangan ikut lari bersama orang gila itu!
Bapak : Tapi..tapi sampeyan bukan dokter kan?
Orgil : Saya ini Dokter lulusan KALIPO alias kali porong. (tertawa)
Bapak : Tapi..tapi, sampeyan kan gila?!
Orgil :(Marah) Bilang apa kamu?
Bapak : Nggak! Saya nggak bilang apa-apa.( Tambah takut) Anu..Anu..Itu..Itu..
Orgil : Anu..Anu..Anumu..itu..itu..itumu(tertawa) ha..ha..ha..
Bapak : (ketika orgil tertawa, mencari kesempatan untuk lari) lihat ada apa di atas!
Orgil : (masih tertawa) Lho, kemana dia?! He, jangan lari! Tunggu! Awas, kalo’ ketangkat! Akan kumasukkan ke dalam Rumag Sakit gila.
Bapak : (Tiba-tiba bangun dan tertawa sendiri) Hi..hi..hi..
Orgil : (Chalet) Lho, kamu masih hidup?!
Anak : (Masih tertawa) Hi..hi..hi..siapa kamu? (mengejar orgil, mau mencekik)
Orgil : Tolong-tolong ada orang gila (mengambil alat suntik lalu disuntikkan). Rasakan ini! (Si anak pingsan kembali)
( Tiba-tiba in stage Dokter, satpam, suster & dokter RSJ)
Dokter : Nah, ini orangnya!
Satpam : Mau lari kemana? (orgil bingung)
Suster : Tangkap dia, cepat!
Satpam : Beres! Dengan senang hati. (kepada dokter RSJ) lapor! Saya siap menangkap pasien yang gila. Laporan selesai.
Dokter RSJ : Halah! Kelamaan. Keburu lari lagi nanti! Cepat tangkap!
(ending adegan kucing-kucingan/ lari kejar-kejaran)